Saat aku mengatakan ingin mobil kepada ayahku, beliau bertanya, "Untuk apakah mobil itu nak? Bukannya kamu sudah memiliki sebuah motor yang masih bagus dan layak untuk di kendarai?"
Aku menjawab, "Ayah, aku ingin mobil karena banyak fungsinya. Agar ketika hujan, kami bisa berpergian dan berbelanja tanpa basah. Agar Ibu bisa ikt kami berpergian. Agar dia tidak lelah dan kepanasan. Agar kita bisa berpergian bersama dengan nyaman. Agar kita bisa berkumpul seperti dulu. Agar kita tak perlu repot saat membawa barang yang berat dan dalam jumlah banyak. Dan masih banyak lainnya."
"Tidakkah cukup kita memiliki 5 motor? 1 milikmu, 1 milik Ibumu, 1 milik Ayah, 1 milik kakak perempuanmu yang sangat menyayangimu, 1 milik kakak laki - lakimu yang selalu mengerti kamu."
"Tidak Ayah, bukan itu masalahnya. Bagiku itu lebih dari cukup. Tapi saat ini Ibu sudah tidak bisa mengendarai motor. Bukannya lebih baik dijual saja? Lalu kita membeli mobil. Dengan 5 motor memang sangat cukup, tapi bukan itu masalahnya Ayah."
"Anakku yang cerdas, anakku yang kusayangi, pernahkah terpikirkan olehmu apa yang akan terjadi jika kita memiliki mobil? Sebenarnya bisa saja Ayah menuruti keinginanmu, membelikan kita mobil sesuai apa yang kamu inginkan. Tapi apakah kamu bisa menghilangkan hobimu berbelanja? Apakah kamu tidak keberatan, kamu tidak bisa lagi membeli barang - barang lucu, baju - baju bagus dan manis, asesoris yang cantik, dan melakukan perawatan tubuh atau rambutmu? Dan apaklah kamu tak merasa keberatan, bila suatu saat kita memiliki mobil, gaya hidup kita berubah? Mungkin saja kita akan lebih sering bertengkar karena hal sepele(hanya kami yang tau)."
"Oh, aku tidak pernah terpikirkan tentang hal itu Ayah, sungguh. Kalau itu yang akan terjadi bila kita memiliki mobil, lebih baik kita tidak memiliki mobil. Ohya, dan mungkin saja suatu saat sifatku menjadi buruk, tamak dan sombong misalnya."
"Benar anakku. Jadi, apakah kita sudah selesai dengan diskusi kita kali ini? Ayah rasa kamu sudah berubah pikiran."
"Ya Ayah. Maafkan permohonanku yang kekanakan ini. Aku hanya ingin berniat baik, sungguh. Aku hanya ingin menyenangkan hati keluarga."
"Tak apa anakku. Sekarang keluarlah dengan kakakmu. Bersenang - senanglah. Ayah akan memberi kakakmu uang agar kalian bisa berbelanja."
"Terimakasih, Ayah."